Cara Menentukan Strategi Konten untuk Bisnis Online

    18 September 2026by Oraldo Emeraldi - Founder Growlab & Youngtrepreneur

    Cara Menentukan Strategi Konten untuk Bisnis Online

    Cara menentukan strategi konten yang tepat adalah pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi menjadi batu sandungan pertama bagi banyak pemilik bisnis online. Mereka sudah posting rutin, sudah beli kamera bagus, sudah pakai template feed yang rapi tapi kontennya tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada klik, tidak ada pertanyaan masuk, tidak ada penjualan. Masalahnya bukan di kuantitas konten. Masalahnya ada di fondasi: strategi konten yang belum pernah benar-benar dibangun dari awal. Artikel ini memandu kamu melewati prosesnya secara runut dari memahami siapa bisnismu di mata audiens (brand personality), siapa yang kamu tuju (target audiens), sampai memilih format dan kanal yang paling masuk akal untuk kondisi bisnis kamu saat ini.

    Cara Menentukan Strategi Konten untuk Bisnis Online

    Daftar Isi
    1. Apa Itu Strategi Konten dan Mengapa Ini Bukan Sekadar Jadwal Posting
    2. Langkah 1 Tentukan Brand Personality Bisnismu Terlebih Dahulu
    3. Langkah 2 Identifikasi Target Audiens dengan Spesifik, Bukan Generik
    4. Langkah 3 Tentukan Tujuan Konten Sesuai Posisi Pembeli dalam Perjalanan Mereka
    5. Langkah 4 Pilih Format dan Kanal yang Sesuai, Bukan yang Sedang Tren
    6. Langkah 5 Bangun Pilar Konten dan Buat Konten Secara Sistematis

    Apa Itu Strategi Konten dan Mengapa Ini Bukan Sekadar Jadwal Posting

    Strategi konten adalah rencana terstruktur yang menjawab tiga pertanyaan sekaligus: konten apa yang dibuat, untuk siapa, dan untuk tujuan bisnis apa. Bukan sekadar 'posting Senin-Rabu-Jumat' atau 'bikin konten edukatif'. Itu jadwal dan tema, bukan strategi.

    Perbedaannya terasa di hasil. Bisnis yang hanya punya jadwal akan konsisten tapi tidak tumbuh kontennya hidup, tapi tidak bekerja. Bisnis yang punya strategi tahu persis kenapa mereka membuat konten tertentu, siapa yang akan tergerak, dan langkah apa yang diharapkan dari audiens setelah melihat konten itu.

    Menurut panduan pemasaran konten dari Asana, strategi konten yang baik selalu dimulai dari memahami audiens secara mendalam sebelum menentukan format atau kanal apa pun. Ini bukan langkah yang bisa dilewati karena kanal yang tepat untuk satu bisnis bisa sangat salah untuk bisnis lain, tergantung siapa pembelinya dan di mana mereka menghabiskan waktu.

    Untuk bisnis online baik toko di marketplace, brand di media sosial, maupun keduanya strategi konten yang solid adalah yang menghubungkan setiap postingan ke satu tujuan bisnis yang jelas: membangun kepercayaan, mendatangkan traffic, atau mendorong keputusan beli.

    Langkah 1 Tentukan Brand Personality Bisnismu Terlebih Dahulu

    Brand personality adalah karakter dan 'kepribadian' yang mewakili bisnismu di mata audiens cara bicara, nilai yang dibawa, dan perasaan yang ditinggalkan setelah orang berinteraksi dengan kontenmu. Ini bukan soal logo atau warna; ini soal siapa bisnis kamu sebenarnya.

    Kenapa ini harus diselesaikan sebelum memikirkan konten? Karena tanpa brand personality yang jelas, kontenmu akan tidak konsisten. Hari ini lucu dan santai, besok formal dan kaku, lusa tiba-tiba motivasional. Audiens tidak bisa membentuk kesan yang kuat dari bisnis yang 'berubah-ubah kepribadian'.

    Ada beberapa kerangka yang bisa membantu. Yang paling praktis untuk bisnis skala UMKM dan toko online adalah menentukan 3 kata sifat utama yang menggambarkan bisnismu misalnya: 'terpercaya, hangat, dan praktis'. Tiga kata ini kemudian menjadi filter untuk setiap keputusan konten: apakah caption ini terasa 'terpercaya'? Apakah visual ini terasa 'hangat'?

    Kerangka lain yang sering dipakai adalah Brand Archetype membayangkan brand seperti tokoh manusia. Apakah bisnismu seperti 'Sang Ahli' yang selalu berbagi ilmu dan data? Atau seperti 'Sahabat' yang selalu di sisi pembeli? Atau 'Penjelajah' yang mendorong pelanggan mencoba hal baru? Pilihan ini memengaruhi nada bicara konten secara langsung.

    Untuk bisnis yang baru mulai, cara paling cepat menentukan brand personality adalah dengan menjawab dua pertanyaan: (1) Kalau bisnismu adalah manusia, kamu ingin pelanggan menceritakannya ke temannya dengan kata-kata apa? (2) Bisnis serupa apa yang tidak ingin kamu menyerupainya? Jawaban keduanya memberikan batas yang cukup jelas.

    Brand Personality vs Brand Identity Jangan Keliru

    Brand identity adalah elemen visual: logo, palet warna, tipografi. Brand personality adalah elemen karakterial: cara bicara, nilai, emosi yang ditimbulkan. Keduanya perlu selaras, tapi keduanya berbeda.

    Kesalahan yang sering terjadi: bisnis sudah punya visual yang rapi dan konsisten, tapi cara berbicaranya di caption, di balas komentar, atau di konten video tidak mencerminkan karakter yang sama. Hasilnya, audiens melihat 'merek yang cantik' tapi tidak merasakan kedekatan atau kepercayaan.

    Brand personality yang kuat justru terasa di teks dan nada bicara lebih dari sekadar visual. Dua toko dengan foto produk yang sama kualitasnya bisa terasa sangat berbeda hanya karena cara mereka menulis caption.

    Langkah 2 Identifikasi Target Audiens dengan Spesifik, Bukan Generik

    Target audiens adalah kelompok spesifik orang yang paling mungkin membeli produk atau menggunakan jasamu dan yang paling mungkin merespons kontenmu. Ini bukan 'semua orang yang butuh produk ini'. Semakin spesifik definisi audiens, semakin tajam konten yang bisa dibuat.

    Kesalahan klasik yang sering ditemukan di toko-toko online adalah mendefinisikan audiens terlalu lebar: 'perempuan 18-35 tahun'. Itu 40+ juta orang di Indonesia dengan kebutuhan, kebiasaan, dan cara pengambilan keputusan yang sangat berbeda. Konten yang bicara ke semua dari mereka tidak akan terasa relevan ke satu pun dari mereka.

    Cara menentukan target audiens yang lebih berguna adalah membangun apa yang disebut buyer persona gambaran detail satu tipe pembeli ideal, seolah kamu menggambarkan satu orang nyata. Termasuk: usia, pekerjaan, kebiasaan belanja online, platform yang sering dipakai, masalah yang sedang mereka hadapi, dan apa yang biasanya menghalangi mereka dari membeli.

    Data untuk membangun persona ini bisa datang dari beberapa sumber yang sudah ada di tanganmu: ulasan produk (apa yang pembeli puji dan keluhkan?), pertanyaan yang masuk ke chat, komentar di konten kompetitor, dan data demografis dari insight akun media sosialmu. Ini data nyata, bukan asumsi.

    Satu hal yang sering dilewatkan: audiens yang berbeda butuh konten yang berbeda, bahkan untuk produk yang sama. Kalau bisnismu melayani dua segmen berbeda misalnya pembeli personal dan reseller keduanya perlu diperlakukan sebagai persona terpisah dengan pesan konten yang berbeda.

    Cara Membaca Pola Audiens dari Data yang Sudah Ada

    Sebelum membuat persona dari nol, lihat data yang sudah ada. Di toko marketplace, tab 'Analitik Pembeli' atau 'Insight Pelanggan' bisa memberi gambaran awal soal usia dan lokasi pembeli terbanyak. Di Instagram atau TikTok, data audiens di menu insight bisa menunjukkan jam aktif dan demografi followers.

    Yang lebih informatif dari angka demografis adalah pola perilaku: konten mana yang paling banyak diselamatkan (save)? Produk mana yang paling banyak masuk keranjang tapi jarang di-checkout? Pertanyaan apa yang paling sering muncul di chat? Pola ini memberitahu kamu apa yang audiens pedulikan dan di mana mereka masih ragu.

    Dari pola ini, kamu bisa menarik tema konten yang relevan bukan dari tebakan, tapi dari sinyal nyata yang sudah ada.

    Langkah 3 Tentukan Tujuan Konten Sesuai Posisi Pembeli dalam Perjalanan Mereka

    Langkah 3 Tentukan Tujuan Konten Sesuai Posisi Pembeli dalam Perjalanan Mereka - Cara Menentukan Strategi Konten untuk Bisnis Online

    Tidak semua orang yang melihat kontenmu sedang siap membeli. Sebagian baru pertama kali mengenal bisnismu. Sebagian sudah tahu tapi belum yakin. Sebagian sudah yakin tapi perlu dorongan terakhir. Strategi konten yang baik memperhitungkan ketiga kelompok ini dan membuat konten yang relevan untuk masing-masing.

    Dalam dunia pemasaran, ini dikenal sebagai konsep funnel atau corong. Bagian atas (awareness) berisi orang yang baru sadar ada masalah atau kebutuhan. Bagian tengah (consideration) berisi orang yang sudah mencari solusi dan membandingkan pilihan. Bagian bawah (conversion) berisi orang yang sudah hampir memutuskan.

    Kesalahan yang paling umum: bisnis membuat semua kontennya untuk bagian bawah terus-menerus posting 'beli sekarang', 'order sini', 'promo hari ini'. Konten seperti ini efektif hanya untuk orang yang sudah siap beli. Untuk orang yang baru mengenal bisnis kamu, konten itu terasa memaksa dan justru mendorong mereka pergi.

    Proporsi yang sehat untuk sebagian besar bisnis online adalah: sekitar 50-60% konten untuk awareness dan edukasi (membangun kepercayaan dan mengenalkan nilai brand), sekitar 20-30% untuk pertimbangan (perbandingan, ulasan, studi kasus), dan sekitar 15-20% untuk konversi langsung. Angka ini bukan aturan kaku bisnis dengan audiens yang sudah hangat bisa bergeser ke konten konversi lebih banyak.

    Tren 2026 yang dicatat Mekari dalam kajian strategi digital marketing mereka relevan di sini: konsumen semakin menggunakan AI seperti ChatGPT atau Google AI Overview untuk riset sebelum membeli. Ini berarti konten informatif dan edukatif yang menjawab pertanyaan nyata pembeli tidak hanya bagus untuk membangun kepercayaan tapi juga berpeluang muncul sebagai referensi di hasil pencarian berbasis AI.

    Langkah 4 Pilih Format dan Kanal yang Sesuai, Bukan yang Sedang Tren

    Langkah 4 Pilih Format dan Kanal yang Sesuai, Bukan yang Sedang Tren - Cara Menentukan Strategi Konten untuk Bisnis Online

    Format konten (video pendek, carousel, artikel, foto produk, live streaming) dan kanal distribusi (Instagram, TikTok, marketplace, website, email) harus dipilih berdasarkan dua hal: di mana audiens targetmu menghabiskan waktu, dan format apa yang paling masuk akal untuk jenis konten yang ingin kamu sampaikan.

    Bukan format mana yang sedang viral. Bukan kanal mana yang paling banyak dipakai kompetitor. Karena audiens yang berbeda punya kebiasaan konsumsi konten yang berbeda dan ukuran kompetitor yang berbeda membuat pendekatan mereka tidak selalu bisa langsung ditiru.

    Beberapa pemetaan umum yang bisa dijadikan titik awal: video pendek (Reels/TikTok) efektif untuk demonstrasi produk, edukasi singkat, dan konten hiburan yang membangun awareness. Carousel (Instagram/Facebook) kuat untuk edukasi bertahap dan perbandingan. Foto produk yang rapi sangat menentukan untuk toko di marketplace. Artikel blog dan konten web penting untuk bisnis yang audiensnya aktif mencari informasi di Google sebelum membeli.

    Riset dari Omnirank tentang tren SEO 2026 menyebut pendekatan topical authority membangun konten yang mendalam dan terhubung dalam satu klaster topik sebagai strategi yang semakin relevan di era pencarian berbasis AI. Untuk bisnis yang ingin ditemukan lewat Google atau muncul sebagai referensi AI, ini berarti membuat serangkaian artikel yang saling terhubung jauh lebih efektif daripada satu artikel besar yang terisolasi.

    Satu aturan praktis: mulai dari satu kanal utama dan kuasai dulu sebelum ekspansi. Bisnis yang mencoba hadir di lima kanal sekaligus dengan sumber daya terbatas biasanya tidak ada yang benar-benar optimal di satu pun dari mereka. Pilih kanal di mana audiens utamamu paling aktif, bangun konsistensi di sana, baru perluas.

    Cara Memilih Format untuk Setiap Tahap Funnel

    Awareness: format yang mudah dikonsumsi tanpa konteks sebelumnya video pendek, konten hiburan/edukasi ringan, Reels, TikTok. Tujuannya memperkenalkan brand dan masalah yang kamu selesaikan, bukan langsung menjual.

    Consideration: format yang membantu pembanding dan membangun kepercayaan carousel perbandingan, testimoni pelanggan, video demonstrasi produk, artikel yang menjawab pertanyaan spesifik. Di sini orang sudah tertarik; tugas konten adalah meyakinkan.

    Conversion: format yang mendorong keputusan penawaran terbatas, konten dengan CTA jelas, live streaming dengan sesi tanya jawab langsung, atau halaman produk di marketplace yang informatif dan dilengkapi ulasan. Di sini orang sudah hampir memutuskan; konten harus menghilangkan keraguan terakhir.

    Langkah 5 Bangun Pilar Konten dan Buat Konten Secara Sistematis

    Langkah 5 Bangun Pilar Konten dan Buat Konten Secara Sistematis - Cara Menentukan Strategi Konten untuk Bisnis Online

    Pilar konten adalah 3-5 tema besar yang menjadi 'rumah' dari semua konten bisnismu. Pilar ini lahir dari perpotongan tiga hal: apa yang bisnismu kuasai, apa yang audiens targetmu pedulikan, dan apa yang mendukung tujuan bisnis kamu.

    Contoh konkret untuk toko skincare: pilar bisa mencakup 'edukasi bahan aktif', 'rutinitas perawatan kulit untuk iklim tropis', 'ulasan dan testimoni pelanggan', dan 'tips memilih produk sesuai jenis kulit'. Semua konten yang dibuat jatuh ke salah satu dari pilar ini sehingga akun terasa punya tema yang kohesif, bukan campur aduk.

    Dengan pilar yang jelas, proses produksi konten jauh lebih mudah. Kamu tidak perlu mencari ide dari nol setiap hari cukup tanya: 'pilar mana yang belum dapat konten minggu ini?' atau 'format apa yang belum dipakai untuk pilar ini?'. Ini yang membuat konsistensi menjadi mungkin dalam jangka panjang.

    Dari pilar, turunkan ke kalender konten yang realistis. Realistis bukan berarti sedikit tapi disesuaikan dengan kapasitas tim atau kapasitas kamu sebagai pemilik bisnis. Lima konten seminggu yang konsisten selama tiga bulan jauh lebih menghasilkan daripada dua puluh konten sebulan lalu berhenti karena kelelahan.

    Satu prinsip penting yang sering diabaikan: strategi konten bukan dokumen yang dibuat sekali lalu berjalan sendiri. Ia perlu dievaluasi secara berkala minimal sebulan sekali. Lihat mana konten yang mendapat respons, mana yang diabaikan, dan gunakan data itu untuk menyesuaikan pilar dan format ke depannya. Strategi yang tidak dievaluasi akan cepat usang.

    Proses membangun strategi konten ini bisa kamu kerjakan sendiri dan artikel ini memang dirancang untuk itu. Tapi kalau kamu sudah di tahap di mana toko sudah jalan, konten sudah ada, tapi hasilnya belum mencerminkan usaha yang dikeluarkan, biasanya yang dibutuhkan adalah audit menyeluruh: bukan hanya kontennya, tapi keseluruhan ekosistem toko dari halaman produk, struktur penawaran, sampai bagaimana konten mendorong traffic ke tempat yang tepat. Pendekatan seperti itu biasanya lebih efektif kalau dikerjakan bersama tim yang sudah terbiasa membaca pola toko online.

    Penutup

    Strategi konten bukan tentang membuat banyak konten. Ia tentang membuat konten yang tepat, untuk orang yang tepat, pada waktu dan kanal yang tepat dan semua keputusan itu berakar pada dua hal yang dibahas di awal: brand personality yang jelas dan pemahaman mendalam soal target audiens. Tanpa dua fondasi ini, konten apa pun yang dibuat akan terasa seperti berbicara ke ruangan yang kosong. Mulai dari sini, bangun secara sistematis, dan evaluasi secara rutin. Strategi konten yang baik bukan yang sempurna di atas kertas tapi yang terus diperbaiki berdasarkan data nyata dari audiens nyata.

    Kalau kamu merasa strategi konten dan performa toko online kamu butuh dilihat lebih menyeluruh bukan hanya kontennya, tapi keseluruhan ekosistem tokonya tim Growlab siap membantu. Kami mengerjakan audit dan optimasi toko online secara end-to-end: dari analisis konten, struktur halaman produk, hingga strategi iklan yang selaras. Konsultasikan kondisi toko kamu dengan tim kami melalui halaman layanan Growlab.


    Daftar Pustaka

    1. Apa itu Pemasaran Konten? Panduan Lengkap [2026] - Asana - https://asana.com/id/resources/content-marketing
    2. Strategi Digital Marketing 2026: Framework, Tren, dan Pilar Utama - Mekari - https://mekari.com/blog/strategi-digital-marketing-2026
    3. SEO Recap March 2026 - Update dan Trend Terbaru - Omnirank - https://omnirank.id/seo-recap-maret-2026

    Penulis (1)

    Oraldo Emeraldi
    Oraldo EmeraldiPenulis utama
    Founder Growlab & Youngtrepreneur

    Praktisi bisnis digital dengan pengalaman dalam pengembangan bisnis online dan optimasi marketplace, khususnya Shopee dan TikTok Shop. Berpengalaman dalam menyusun strategi penjualan, mengoptimalkan performa toko, dan mengembangkan bisnis e-commerce untuk membantu seller meningkatkan penjualan serta pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

    Lihat semua artikel Oraldo Emeraldi
    Rekomendasi Lainnya