
Sudah pakai Shopee Ads berbulan-bulan, tapi ROAS tetap jelek dan toko tidak berkembang? Banyak seller mengalami hal yang sama bukan karena iklannya yang salah, melainkan karena cara pengelolaannya yang belum sesuai dengan cara kerja Shopee Ads saat ini. Di era GMV Max, sistem iklan Shopee sudah berubah cukup signifikan. Pendekatan lama seperti atur ulang budget setiap jam atau matikan iklan di luar jam ramai justru bisa memperburuk performa. Artikel ini menjelaskan cara kerja Shopee Ads secara jujur, termasuk di mana banyak seller masih salah, serta apa yang sebaiknya dilakukan agar iklan benar-benar efisien.

Shopee Ads adalah layanan iklan berbayar di dalam platform Shopee yang dirancang untuk meningkatkan visibilitas produk dan toko di hadapan calon pembeli yang relevan. Menurut laman resmi Pusat Edukasi Penjual Shopee, iklan ini membantu produk muncul di posisi yang lebih strategis baik di hasil pencarian, halaman produk serupa, maupun beranda aplikasi.
Artinya, dengan Shopee Ads, produk kamu tidak hanya mengandalkan algoritma organik yang semakin ketat. Kamu secara aktif 'mendorong' produk ke depan calon pembeli yang memang sedang mencari barang seperti milikmu. Ini penting, terutama kalau toko masih baru atau bersaing di kategori yang padat.

Ini bagian yang paling sering disalahpahami seller. Shopee Ads saat ini terutama mode GMV Max bekerja berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem belajar sendiri: siapa yang paling mungkin beli, kapan waktu terbaik menampilkan iklan, dan berapa bid yang efisien.
Nah, karena sistemnya belajar dari data, ada satu aturan yang tidak boleh dilanggar: jangan terlalu sering mengubah pengaturan iklan. Setiap kali kamu mengutak-atik budget, target, atau ROAS secara drastis dalam waktu singkat, sistem GMV Max harus mulai belajar ulang dari awal. Hasilnya? Performa iklan turun sementara, kadang cukup lama.
Strategi 'jam ramai' yaitu menaikkan budget saat malam dan mematikan iklan di siang hari adalah metode lama yang tidak lagi relevan untuk iklan GMV Max. Biarkan AI bekerja. Yang perlu kamu lakukan adalah menetapkan pengaturan yang tepat di awal, lalu memberi waktu sistem untuk belajar dan mengoptimalkan sendiri.
Secara umum, iklan GMV Max butuh waktu beberapa hari hingga dua minggu untuk memasuki fase stabil setelah pertama kali diaktifkan atau setelah ada perubahan pengaturan besar. Selama periode itu, performa bisa terlihat tidak konsisten ini normal. Banyak seller panik dan mengubah pengaturan lagi, padahal itu justru memperpanjang proses pembelajaran.
Prinsipnya sederhana: set dengan benar di awal, kemudian sabar. Evaluasi setelah periode belajar selesai, bukan di tengah jalan.
ROAS (Return on Ad Spend ) adalah ukuran seberapa besar omzet yang dihasilkan dari setiap rupiah yang dikeluarkan untuk iklan. Kalau ROAS kamu 5, artinya tiap Rp1 yang dibelanjakan untuk iklan menghasilkan Rp5 omzet.
Di laman iklan.shopee.co.id, seller bisa mengatur target ROAS sesuai margin dan target bisnis masing-masing. Inilah salah satu keunggulan GMV Max: kamu bisa memberi 'instruksi' ke sistem soal hasil minimum yang kamu harapkan dari iklan.
Tapi ada catatan penting: jangan ubah target ROAS terlalu ekstrem dalam waktu dekat. Kalau kamu naikkan target ROAS lebih dari dua kali lipat dalam satu minggu, sistem akan kehilangan 'perlindungan ROAS'-nya dan mulai beradaptasi dari nol lagi. Ubah secara bertahap naik 10-20% setiap beberapa hari kalau memang perlu disesuaikan.
Tidak ada angka universal yang berlaku untuk semua seller, karena ROAS yang 'bagus' sangat bergantung pada margin produk. Produk dengan margin tipis butuh ROAS yang lebih tinggi supaya iklan tetap menguntungkan, sementara produk bermargin besar lebih fleksibel.
Yang pasti, ada dua metrik lain yang perlu diperhatikan beriringan dengan ROAS: CTR (Click-Through Rate, yaitu seberapa banyak orang yang lihat iklan lalu benar-benar klik) dan CO Rate atau Conversion Rate (dari yang klik, berapa yang akhirnya beli). Patokan umum: CTR di atas 3% dan CO rate di atas 2% adalah tanda performa yang sehat. Di bawah itu, ada sesuatu yang perlu dievaluasi entah di sisi konten/foto produk, harga, atau relevansi audiens.
Shopee Ads baru-baru ini merilis fitur Ad Group sebuah fitur yang memungkinkan seller mengelompokkan beberapa produk dalam satu iklan dengan satu budget dan satu target ROAS yang sama. Informasi ini dihimpun dari ulasan praktisi marketplace di LinkedIn.
Fitur ini berguna bagi seller yang punya banyak SKU serupa dan ingin mengelolanya secara lebih efisien tanpa harus membuat kampanye iklan terpisah untuk tiap produk. Dengan Ad Group, budget bisa dialokasikan lebih fleksibel di antara produk-produk dalam satu grup, dan sistem AI bisa mengoptimalkan distribusinya secara otomatis.
Ini juga mengonfirmasi arah Shopee Ads ke depan: makin berbasis otomasi AI, makin sedikit intervensi manual yang dibutuhkan asalkan pengaturan awal dan pemilihan produk sudah tepat.

Sejak Growlab mulai mendampingi seller marketplace, ada beberapa pola kesalahan yang berulang terus dan hampir semuanya berkaitan dengan cara seller memahami (atau salah memahami) cara kerja iklan.
Kesalahan pertama: mengiklankan semua produk dengan budget yang sama. Sistem akan lebih efisien kalau kamu memberi porsi budget terbesar ke produk hero atau winning product produk yang sudah terbukti punya CTR dan CO rate tinggi. Jangan matikan iklan produk hero saat sedang ramai; justru saat itulah momentum untuk memperbesar budget.
Kesalahan kedua: terlalu cepat panik dan mengubah pengaturan. Seperti dijelaskan sebelumnya, GMV Max butuh waktu belajar. Seller yang mengubah bid atau budget setiap hari karena tidak sabar justru membuat sistem tidak pernah mencapai fase optimal.
Kesalahan ketiga: mengabaikan kualitas halaman produk. Iklan hanya membawa orang ke halaman produkmu. Kalau foto gelap, deskripsi seadanya, dan harga tidak kompetitif iklan sebagus apa pun tidak akan menghasilkan konversi. CTR bagus tapi CO rate jelek adalah tanda klasik masalah di halaman produk, bukan di iklannya.
Iklan adalah akselerator. Kalau toko sudah berjalan baik, iklan akan mempercepat pertumbuhan. Tapi kalau toko masih punya masalah mendasar foto produk lemah, rating rendah, deskripsi tidak menjual, struktur harga tidak kompetitif iklan hanya akan mempercepat pengeluaran tanpa hasil yang sebanding.
Itulah kenapa strategi Shopee Ads yang benar tidak bisa dilepaskan dari kondisi toko secara keseluruhan. Sebelum menambah budget iklan, ada baiknya mengaudit dulu: di mana sebenarnya 'bocor'-nya? Apakah di CTR (orang tidak mau klik), di ATC (orang klik tapi tidak masukkan ke keranjang), atau di CO rate (sudah di keranjang tapi tidak jadi beli)?
Tiap titik bocor butuh solusi yang berbeda. CTR rendah biasanya soal foto dan judul. ATC rendah bisa soal harga atau tampilan halaman. CO rate rendah sering soal kepercayaan rating, ulasan, kredibilitas toko.
Mengelola Shopee Ads sendiri bisa dilakukan selama kamu punya waktu, data, dan pemahaman yang cukup untuk menganalisis performa dan membuat keputusan yang tepat. Tapi ada situasi di mana mencoba sendiri justru lebih mahal daripada menggunakan bantuan profesional.
Pertama, kalau iklan sudah berjalan lebih dari dua bulan tapi ROAS tidak kunjung membaik dan kamu tidak tahu harus mengubah apa. Kedua, kalau omzet sudah mentok di angka tertentu dan kamu sudah coba berbagai cara tanpa hasil signifikan. Ketiga, kalau budget iklan terus membesar tapi proporsi profit tidak ikut naik artinya ada inefisiensi yang butuh mata kedua untuk dideteksi.
Di sinilah layanan optimasi toko bekerja: bukan sekadar benerin iklan, tapi melihat toko secara menyeluruh dari struktur produk, strategi harga, konten, sampai cara iklan dikonfigurasi lalu menyusun pendekatan yang sistematis.
Kalau toko kamu sudah lama pakai Shopee Ads tapi hasilnya stagnan, mungkin saatnya dilihat lebih dalam. Tim Growlab bisa bantu audit kondisi toko sebelum kamu memutuskan langkah selanjutnya.

Shopee Ads bukan tombol ajaib tapi kalau dipahami dengan benar, ia bisa menjadi mesin pertumbuhan yang sangat efektif. Kuncinya ada di tiga hal: pahami cara kerja GMV Max dan beri sistem waktu untuk belajar, fokuskan budget pada produk yang sudah terbukti performanya, dan pastikan halaman produk serta kondisi toko sudah solid sebelum mengandalkan iklan sebagai pengungkit. Kalau ketiga hal ini sudah berjalan, ROAS yang konsisten bukan sesuatu yang mustahil.
Daftar pustaka
• Tentang Iklan Shopee | Pusat Edukasi Penjual Shopee — https://seller.shopee.co.id/edu/article/17268
• Iklan Shopee — https://iklan.shopee.co.id
• Shopee Ads: Fitur Terbaru Ad Group (LinkedIn — Fasya R.) — https://www.linkedin.com/posts/fasyarl_shopee-ads-baru-merilis-fitur-terbaru-ad-activity-7366687700986310658-0b-g
• Shopee Revenue and Usage Statistics (2026) — https://www.businessofapps.com/data/shopee-statistics

Praktisi bisnis digital dengan pengalaman dalam pengembangan bisnis online dan optimasi marketplace, khususnya Shopee dan TikTok Shop. Berpengalaman dalam menyusun strategi penjualan, mengoptimalkan performa toko, dan mengembangkan bisnis e-commerce untuk membantu seller meningkatkan penjualan serta pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Lihat semua artikel Oraldo Emeraldi